Memperbaiki Komunikasi Pada Anak
Sudah
dua kali kejadian, Sahla ( 4 tahun ), mencari perhatian didepan umum dengan
menangis dan memukul.
Kejadian
pertama saat rapat Kerja, waktu itu saya maklumi mungkin dia merasa bosan,
sampai karena takut mengganggu suasana rapat, akhirnya saya izin pulang duluan.
Sepanjang
jalan menangis terus, sampai teriak-teriak. Kebetulan saya jalan kaki dan jarak
tempuhnya sekitar 15 menit. Waktu itu yang saya rasakan harus menahan pandangan
orang yang menganggap saya sebagai ibunya tega. Membiarkan anak menangis
sepanjang jalan tanpa menggendongnya. Padahal Sahla sudah beberapa kali teriak
minta gendong karena cape.
Kali
ini sepanjang jalan nangis ingin es krim, namun saya sudah membuat kesepakatan
diawal kalau ingin membeli es krim tidak boleh mengganggu acara rapat. Dan,
kenyataannya tidak.
Baiklah,
kali ini saya akan tega tidak sesuai kesepakatan maka tidak ada es krim.
Meskipun nangisnya meraung-raung bahkan terhitung lama. Saya biarkan dia
mengeluarkan dulu emosinya.
30
menit berlalu, mulai merasa tenang karena saya biarkan. Akhirnya saya
berkomunikasi
Saya : “Sahla kenapa tadi nangis, nuju sedih
sahla teh?”
Sahla : “Da, aku mau es krim. Mamahna baong nggak
beli es krim.”
Saya : “Mamah teu baong neng. Kan, atos
perjanjian boleh beli es krim kalau tidak mengganggu.”
Sahla : “Ah, pokokna mah mamah baong.”
Saya : “ Ya, wios atuh engke mah ulang ngiring
deuinya, upami mamah rapat.”
Sahla : “Ngga mau, mau ikut”
Saya : “Boleh, tapi ingat yah aturannya sebelum
pergi harus bagaimana.”
Sahla : “Iya”
Dan,
saya peluk lalu kecup keningnya. Anak Solehah.
Untuk
membuktikan komunikasi ini berhasil atau tidak. Harus dilihat hari selanjutnya.
#hari3
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#Kuliahbunsayiip