Berbagi kisah untuk menginspirasi

05.29

Aliran Rasa Komunikasi Produktif

by , in

Setelah belajar komunikasi produktif. Saya menyadari banyak sekali pola komunikasi yang harus saya rubah.
Berfikir dulu sebelum bertindak
Mengamati dulu sebelum menghakimi
Memperbaiki komunikasi yang kurang produktif selama ini, memang tidak akan semudah membalikan telapak tangan.
Tapi, jika semua dipelajari sama-sama dan lebih, mementingkan kata-kata positif daripada kalimat yang tidak jelas.
Karena hidup itu harus banyak belajar.
Belajar memahami
Belajar mengerti
Belajar memperbaiki
Agar menjadi manusia lebih baik

22.45

Tantangan Komunikasi Produktif Hari Ke 10

by , in


Hari ini adalah hari ke 10 komunikasi produktif. Tantangan di kuliah Bunda sayang ini banyak menantang saya untuk merubah pola komunikasi dengan anak.
Dari bicara setengah berteriak saat ada sesuatu yang saya anggap anak salah menjadi menghampirinya serta bicara sambil menatap matanya.
Yang tadinya bicara terlalu panjang lebar tapi anak hanya menangkap ujung kata-kata yang saya bicarakan. Mungkin mereka juga merasa bosan punya ibu yang cerewt kaya saya. Sekarang saya rubah menjadi bicara pelan dan hanya satu perintah dulu.
Merubah kata tidak bisa menjadi bisa. Merubah midset saya yang kadang emosi duluan, sebelum menanggapi sesuatu yang saya anggap salah baik dari suami ataupun anak.
Semua harus dijalani setahap demi setahap dan saya berharap usaha saya saat ini untuk menerapkan komunikasi produktif akan terus saya lakukan.
#Day10
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#KuliahBunsayIIP














03.12

Komunikasi Produktif Day 8

by , in



Pulang sekolah seperti biasa syafiq suka ganti baju langsung disimpan bertumpuk di lantai kamar, begitupun setelah memakai handuk dan menyimpan buku.
Biasanya, saya sebagai ibu yang lumayan rempong di pagi hari. Paling cuman ngomel, sambil membereskan barang-barang anak. Tapi, ini kejadian terus menerus. Setelah dimarahi pasti terulang kembali.
Saat mulai membaca buku Bunda Sayang dan mengikuti diskusi Komunikasi produktif. Saya menyadari ternyata saya salah dalam berkomunikasi.
Saya mulai berkomunikasi produktif versi saya.
Dimulai membiarkan Syafiq pulang sekolah saya biarkan istirahat, baru memanggilnya dan menatap matanya.
“A.. tahu enggak, mamah mau bicara sama aa.”
“Apa mah?”
“kalau tempat handuk dimana ya?”
“Di jemuran”
“kalau di lantai kamar tempatnya bukan?”
“bukan”
“berarti nanti simpan di tempatnya, ya!’
“iya”
Begitupun untuk tas dan buku. Belajar komunikasi produktif menjadikan saya harus lebih banyak menahan omelan, tapi menghindari saya untuk bicara yang melabel anak.

#Day8
#tantangan10hari
#KuliahBunsayIIP
#Komunikasiproduktif
07.46

Tantangan Komunikasi Produktif Hari ke 7

by , in



Di hari keenam ini saya mencoba memperbaiki komunikasi dengan anak yang nomer 2, Aslam (6 tahun 7 bulan). Anak saya yang kedua ini cukup pendiam, dan saya juga merasa tidak cukup memantau perkembangannya, mungkin karena diusia 27 bulan sudah punya adik.
Komunikasi yang saya perbaiki adalah ketika dia jatuh. Biasanya saya hanya mengucapkan sudah   bangun anak kuat, hebat nggak boleh nangis. Tanpa saya pedulikan perasaan dia sedihkah, atau dilihat ada luka yang parah atau tidak.
Waktu itu saya berpikir, nanti juga kalau ada yang sakit pasti bilang. Setelah dipikir-pikir ibu macam apa saya ini, begitu teganya tanpa memperdulikan perasaan anak.
Nah, kejadian kemarin. Aslam jatuh didorong temannya, saya hampiri lalu bilang “ada yang sakit?”, ‘’Aslam sedih nggak?”. Tapi, mungkin karena sudah “terbiasa” saya tanamkan dalam pikirannya anak kuat, anak hebat. Aslam hanya menangis sebentar lalu bangkit dan bilang tidak ada yang sakit.
Saya sadar kurang melihat kedalam perasaannya. Saat dia jatuh ataupun saat bertengkar dengan kakak dan saudaranya.
Mudah-mudahan dengan merubah pola komunikasi. Saya bisa lebih melihat kedalam hatinya dan lebih merangkulnya erat.
#Hari ke7
#tantangan 10 hari
#Komunikasi produktif
#KuliahbunsayIIP


06.47

Komunikasi Produktif Hari ke 6

by , in



Hari ini mulai membawa sahla untuk pergi ke pengajian. Sudah di wanti-wanti untuk tidak nangis ataupun ingin pulang saat diajak ke suatu acara sebelum acara selesai.
“Sahla, mamah mau ke pengajian. Mau ikut enggak”
“Mau”
“Tapi enggak boleh mau pulang atau nangis harus sampai selesai ya”
“Ya, tapi mau beli bekel dulu”
“Ya, nanti beli bekel di warung”
Saat tiba di pengajian,30 menit awal masih biasa. Nah, mulai drama kembali nih setelah lebih dari 30 menit.
Mulai nangis, ini salah itu salah enggak bisa di bebenjokeun kata sunda na mah.
Tapi, saya bilang tadi kata mamah apa? Waktu di rumah?
Tetap sambil menangis “Da, pengen pulang”
Sebentar lagi ya.
“Enggak mau”
Perjanjian kedua ini pun gagal.
Yang saya ingin analisa apakah komunikasi saya belum produktif? Ataukah anak saya tidak betah didalam ruangan lama?
Anak saya memang termasuk kinestetik yang senang bergerak kesana kemari. Akan merasa cepat bosan jika tidak ada kegiatan yang menarik untuknya.
PR besar saya bagaimana cara komunikasinya agar mau diajak duduk lama disuatu acara. Karena kalau tidak diajak juga bakalan nangis  terus tidak ada yang menjaga.
#hari ke 6
#kelasBundsayIIP
#Komunikasiproduktif



08.05

Tantangan Komunikasi Produktif Hari Ke 5

by , in

Komunikasi dengan Suami
Entah kenapa, dulu saya tidak bisa mengutarakan isi hati
Jadinya, banyak pikiran-pikiran negatif yang bertebaran di kepala.
Tapi, saat mulai mengenal komunikasi produktif, saya mulai merubah mindset dan mencoba mengutarakan semua isi hati kepada suami.
Tentu saja, dengan perlahan karena tidak biasa.
Merubah pola komunikasi juga bisa merubah cara pikir dan bertindak lebih kearah positif.
Mencoba sedikit demi sedikit merubah pola komunikasi.
Mudah-mudahan komunikasi kami berdua semakin efektif.

#Day5
#KelasBundsayIIP

06.22

Tantangan Komunikasi Produktif Komunikasi Produktif dengan Anak Day 4

by , in



Biasanya setiap pagi adalah drama bagi ibu-ibu, terutama yang seperi saya punya anak usia sekolah.
Mulai dari bangun tidur yang harus selalu dibangunkan beberapa kali sampai lamanya di kamar mandi. Apalagi saya juga bekerja ditambah harus menyiapkan dua anak yang lain.
Pagi, ini pun sama. Saat dibangunkan Syafiq (10 tahun) untuk shalat subuh, lumayan lama baru dia bangun saat ada teriakan dari saya di lantai bawah.
Dan, itu terjadi hampir setiap pagi. Kadang ada penyesalan dari diri bahwa, sebenarnya ngomel dan marah bukan solusi terbaik.
Sedih jika mengingat kesalahan itu sering berulang. Apalagi melihatnya akan pergi sekolah dengan menaiki sepeda. Rasa penyesalan datang saat itu, kasihan udah mah mau sekolah butuh energi yang cukup dan pikiran yang fresh tapi dari bangun tidur sering dengar omelan.
Ya, Allah saya ingin merubah ini semua. Tuntunlah lisan ini untuk selalu mengeluarkan ucapan yang baik dengan lembut. Mungkin pola asuh saya yang dulu sering membuat semua ini terulang kembali. Didikan yang “keras” saat saya kecil sering mempengaruhi sikap saya saat ini.
Ok, sekarang saya ingin memutus rantai ini. Sudah cukup anak saya yang menjelang usia remaja kena omelan ibunya.
Mulai melakukan perubahan dengan komunikasi produktif
Saat membangunkan tidur, saya berbisik di telinganya. Aa ayo bangun kan mau shalat. 1 kali masih terpejam, 2 kali masih sama. Mulai ditingkatkan dengan suara datar tapi tegas, Ayo Aa bangun shalat yuk!
Kali ini saya biarkan dia membuka matanya sekitar 5 menit, agar tidak merasa pusing saat harus tiba-tiba bangun. Setelah bangun, ayo sholat dan meskipun dengan bangun perlahan dia mulai melangkahkan kaki untuk mengambil wudhu. Alhamdulillah ternyata hari ini cukup berhasil.
Mudah-mudahan besok sama.

#hari4
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#Kuliahbunsayiip