Biasanya setiap pagi adalah drama bagi ibu-ibu,
terutama yang seperi saya punya anak usia sekolah.
Mulai dari bangun tidur yang harus selalu dibangunkan
beberapa kali sampai lamanya di kamar mandi. Apalagi saya juga bekerja ditambah
harus menyiapkan dua anak yang lain.
Pagi, ini pun sama. Saat dibangunkan Syafiq (10
tahun) untuk shalat subuh, lumayan lama baru dia bangun saat ada teriakan dari
saya di lantai bawah.
Dan, itu terjadi hampir setiap pagi. Kadang ada
penyesalan dari diri bahwa, sebenarnya ngomel dan marah bukan solusi
terbaik.
Sedih jika mengingat kesalahan itu sering berulang.
Apalagi melihatnya akan pergi sekolah dengan menaiki sepeda. Rasa penyesalan
datang saat itu, kasihan udah mah mau sekolah butuh energi yang cukup dan
pikiran yang fresh tapi dari bangun tidur sering dengar omelan.
Ya, Allah saya ingin merubah ini semua. Tuntunlah lisan ini untuk selalu mengeluarkan ucapan yang baik dengan lembut. Mungkin pola asuh saya yang dulu sering membuat semua ini terulang kembali. Didikan yang “keras” saat saya kecil sering mempengaruhi sikap saya saat ini.
Ok, sekarang saya ingin memutus rantai ini. Sudah cukup
anak saya yang menjelang usia remaja kena omelan ibunya.
Mulai melakukan perubahan dengan komunikasi produktif
Saat membangunkan tidur, saya berbisik di telinganya.
Aa ayo bangun kan mau shalat. 1 kali masih terpejam, 2 kali masih sama. Mulai
ditingkatkan dengan suara datar tapi tegas, Ayo Aa bangun shalat yuk!
Kali ini saya biarkan dia membuka matanya sekitar 5
menit, agar tidak merasa pusing saat harus tiba-tiba bangun. Setelah bangun,
ayo sholat dan meskipun dengan bangun perlahan dia mulai melangkahkan kaki
untuk mengambil wudhu. Alhamdulillah ternyata hari ini cukup berhasil.
Mudah-mudahan besok sama.
#hari4
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#Kuliahbunsayiip
Tidak ada komentar:
Posting Komentar